Minggu, 07 Januari 2018

Seri renungan Hati



Seri Renungan Qalbu

“Jangan sampai Menyesal Karena Waktu”

Oleh: Ahmad Budiman 

(diolah  dari berbagaai sumber)

 

Akhlak dalam memelihra waktu.
Dari Hasan Al-Bashri -Radhiallahu ‘anhu- diriwayatkan bahwa ia berkata: “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak lain hanyalah perjalanan waktu; setiap kali waktu berlalu, berarti hilang sebagian dirimu.” (Siyaru A’laamin Nubalaa’ IV:585)
Diantara ungkapan Hasan lainnya: “Aku pernah bertemu dengan orang-orang di mana masing-masing mereka lebih pelit dalam memelihara umurnya daripada menjaga hartanya.” (“Syarhus Sunnah”, karya Al-Baghawi XIV:225)
Termasuk juga ucapan Al-Hasan dalam menasihati para sahabatnya agar mereka bersikap zuhud terhadap dunia dan menggairahkan mereka untuk mengejar akherat, beliau berkata: “Janganlah benda dunia fana yang sedikit ini melenakan dirimu, demikian juga janganlah mengukur-ukur dirimu. Semua itu akan berlalu dengan cepat mengikis umurmu. Kejarlah ajalmu, jangan lagi katakan: “Besok dan besok.” karena kamu tidak pernah tahu, kapan kamu akan kembali menemui Rabb-mu.” (“Hilyatul Awliyaa” II:140)
Ar-Razi berkata: “aku pernah mendengar Ali bin Ahmad Al-Khawarizmi menyatakan: “aku pernah mendengar Abdurrahman bin Abu Hatim berkata: “Kami pernah berada di Mesir tujuh bulan dan tidak pernah makan sayur (makanan berkuah). Pada setiap siang, kami berkumpul di majelis-majelis para Syaikh. Dan pada malam harinya kami menyalin pelajaran dan mendiktekannya kembali. Pada suatu hari, aku bersama teman dekatku datang menemui seorang Syaikh. Namun orang-orang bilang: “Beliau sedang sakit.’ Di tengah perjalanan, kami melihat ikan yang menarik. Kamipun membelinya. Ketika kami tiba di rumah, tepat datang waktu belajar, sehingga kami belum sempat membereskannya. Kamipun langsung berangkat ke majelis. Demikian terus waktu berlalu hingga tiga hari. Ikan itu tentu saja sudah hampir busuk. Maka kamipun memakannya dalam keadaan mentah. Kami tidak sempat memberikannya kepada seseorang untuk dibakar.” Kemudian beliau menyatakan: “Sesungguhnya ilmu itu tidak bisa diperoleh dengan bersenang-senang.” (“Siyaru A’laamin Nubalaa’” XIII:266)
Abul Wafa Ali bin Abu Aqil menceritakan tentang dirinya sendiri: “sesungguhnya aku tidak membiarkan diriku membuang-buang waktu meski hanya satu jam dalam hidupku. Sampai-sampai apabila lidahku berhenti berdzikir atau berdiskusi, pandangan mataku juga berhenti membaca, segera aku mengaktifkan fikiranku kala beristirahat sambil berbaring. Ketika aku bangkit, pasti sudah terlintas sesuatu yang akan kutulis. Dan ternyata aku mendapati hasratku untuk belajar pada umur delapan puluhan, lebih besar dari hasrat belajarku pada umur dua puluh tahun.” (“Al-Muntazhim” karya Ibnul Jauzi IX:214 menukil dari buku “Sawanih Wa Tawilat Fii Qimatinz Zaman” karya Khaldun Al-Ahdab hal.24)
Beliau juga berkata: “Dengan segala kesungguhan, aku juga memendekkan waktu makanku, sampai-sampai aku lebih memilih memakan biskuit yang dilarutkan dengan air dari pada memakan roti. Alasannya karena kedua makanan tersebut berbeda ketika dikunyah. Yakni demi lebih memberi waktu untuk membaca dan menyalin berbagai hal bermanfaat yang belum sempat kuketahui.” (“Dzail Thabaqatil Hanabilah” I:177, menukil dari buku “Sawanih Wa Ta-wilat Fii Qimatinz Zaman “34)
Semoga Allah merahmati seorang perdana mentri yang faqih semacam Yahya bin Muhammad bin Hubairah – guru dari Ibnul Jauzi, ketika menuturkan:
“Waktu akan semakin berharga bila dijaga dengan baik, tapi aku melihat waktu itu sesuatu yang paling mudah dilalaikan.” (“Dzail Thabaqatil Hanabilah” I:281, menukil dari buku “Sawanih Wa Ta-wilat Fii Qimatinz Zaman “39)
Tentang dirinya sendiri Ibnul Jauzi -Rahimahullah- pernah menuturkan: “Saya telah melihat banyak orang yang berjalan-jalan bersama saya untuk acara kunjung mengunjungi sebagaimana yang menjadi kebiasaan masyarakat. Mereka menyebutkan kebiasaan itu sebagai “pelayanan”. Mereka biasanya mencari tempat duduk (di kediaman seseorang) dan memperbincangkan omongan orang yang tidak berguna. Kadang-kadang semuanya itu diselingi dengan menggunjing orang lain.”
Kebiasaan semacam itu banyak dilakukan oleh anggota masyarakat di jaman kita sekarang ini. Terkadang acara kunjung-mengunjungi itu menjadi tuntutan yang digandrungi, seorang diripun pergi dipaksa-paksakan; khususnya pada hari-hari raya dan ‘Ied. Kita bisa melihat mereka saling tandang ke rumah temannya, tidak hanya mencukupkan diri dengan mengucapkan selamat dan sejenisnya, tapi mereka menyelinginya dengan membuang-buang waktu seperti yang telah saya paparkan.
Ketika kulihat bahwa waktu itu adalah sesuatu yang paling berharga, sementara kewajiban kita adalah melakukan kebajikan, akupun tidak menyukai kebiasaan itu. Sikapku terhadap mereka antara dua hal saja; Kalau aku menyangkal mereka, akan terjadi kerusuhan yang bisa memecah persahabatan. Tapi kalau aku menerima ajakan mereka, aku akan membuang-buang waktu. Akhirnya aku memilih berusaha menolak secara halus, kalau gagal, aku ikuti mereka, namun aku tidak mau ngobrol panjang agar cepat selesai pertemuannya.”
Kemudian aku menyiapkan berbagai aktifitas yang tidak menghalangi aku untuk berbincang-bincang dengan mereka ketika bertemu muka, artinya agar waktuku tidak terbuang sia-sia. Sehingga yang aku persiapkan sebelum bertemu dengan mereka adalah memotong kaghid (kertas yang disiapkan untuk menulis) dan meruncingkan pena serta menyiapkan buku-buku tulis. Semuanya itu perangkat yang tidak boleh tertinggal. Dan untuk mempersiapkannya tidak terlalu membutuhkan fikiran dan konsentrasi. Aku pun mempersiapkannya pada saat-saat terjadi pertemuan dengan mereka agar waktuku tidak terbuang sia-sia.” (“Shaidul Khatir” hal 184,185)
Wallahu Ta’ala A’lam

Cara menghidupan Qalbu



 Rnungan Qalbu 1

BEBERAPA CARA MENGHIDUPKAN HATI”

BAGAIMANA CARA MENGHIDUPKAN HATI?.
Hati yang hidup dan senantiasa mengingat nama Allah merupakan nikmat yang tiada taranya. Sebaliknya, hati yang mati merupakan musibah besar. Jika kita hidup dalam kondisi hati yang mati, maka dalam pandangan Allah hidup kita ini tidaklah berarti.
Sudaraku dibawah ini ada beberapa hal yang dapat menghidupkan hati kita, yaitu sebagai berikut:
1.  Mengingat Allah SWT
Kita tidak perlu membahas lebih jauh mengenai manfaat dari mengingat Allah, karena sudah jelas bagi kita bahwa orang yang berdzikir dengan khusu’, hatinya tidak pernah mati.
Rasulullah Saw. bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat Allah) dengan yang tidak seperti orang yang hidup dan yang mati” (HR. Bukhari).
Dalam Al-Quran disebutkan :
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.(Ar-Raad : 28).
2. Mengingat Mati
Manfaat yang bisa diambil dari mengingat mati adalah munculnya motivasi yang luar biasa dalam diri kita untuk terus meningkatkan amal ibadah dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari setiap dosa.
Sa’id bin Jabir (w. 95 H) berkata: “Jika mengingat mati hilang dari dalam hatiku, maka aku takut hatiku ini menjadi rusak.”
3. Ziarah Kubur
Ziarah kubur merupakan perbuatan yang telah banyak ditinggalkan oleh sebagian besar kaum muslimin dewasa ini. Padahal ia sangat berguna untuk menghidupkan hati kita.
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Sufyan bin Salim (w. 132 H), seorang ulama salaf, sering datang ke kuburan umum. Ketika diteliti oleh seseorang yang penasaran dengan tingkah laku Sufyan, ternyata di sana dia duduk di depan setiap kuburan sambil menangis, padahal mereka yang dikubur itu bukanlah sanak saudaranya.
Pada saat peristiwa itu diberitahukan kepada Muhammad bin Munkadir (w. 130 H), ia mengatakan: “Mereka itu adalah saudara dan teman-temannya. Ketika hatinya sedang gundah, dia akan melakukankan itu dengan tujuan untuk menggugah hatinya yang gundah dengan cara mengingat orang-orang yang telah mati”.
4. Berkunjung kepada Orang-orang yang Shaleh
Ini merupakan perbuatan yang sangat bermanfaat bagi suasana hati kita. Ja’far bin Sulaiman (w. 123 H), seorang ulama dari golongan Tabi’in berkata:
“Ketika hatiku dilanda kegalauan, aku segera mendatangi Muhammad bin Wasi’ dan menatap wajahnya. Bagiku, beliau bagaikan obat penawar bagi kondisi hatiku”.
Berkunjung dengan orang shalih akan membawa manfaat karena orang shalih itu adalah orang yang menjaga lisannya, ia akan berkata yang baik baik saja, maka kata kata itulah yang akan menggugah hati kita dengan mendengarkan kata yang baik atau sebuah nasehat.
Kita dituntut untuk senantiasa menjaga hati kita agar tidak terjerumus ke dalam godaan setan, seperti riya dan syirik. Abu Hafsh An-Naisaburi (w. 264 H) mengatakan: “Aku menjaga hatiku selama dua puluh tahun, kemudian hatiku menjagaku selama dua puluh tahun”.
Dan sesungguhnya masih banyak cara dalam rangka menghidupkan hati kita, semoga yang sedikit ini kita semua mampu untuk menjalaninya dan mengamalkannya.

Bertamasya ke negri akherat



 MENGINTIP NEGRI AKHERAT
(Bagian Pertama)
Oleh: Ahmad Budiman

Alhamdulillah,wassholatu wassalamu ala nabiyil karim Muhammad SAW,
Saudaraku yang tercinta kaum muslimin sekalian, sesungguhnya,sebagai umat islam kita meyakini akan adanya kehidupan setelah kehidupan ini, atau yang sering kita sebut alam akherat, Pada tulisan singkat dan sederhana ini kami ingin mengajak saudara sekalian untuk berjalan-jalan sejenak ke negri akherat dengan dasar dalil Al-quran dan Hadis nabi Muhammad yang menjelaskan bagimana keadaan kehidupan manusia setelah kehidupan dunia ini,kita berdo’a kepada Allah semoga kita bisa mengambil hikmah dari tulisan singkat ini.
Sebagai muslim,sumber yang paling terpercaya untuk kita gunakan membahas masalah ini adalah Al-Quran dan Hadis Nabi Muhmmad,karena alam akherat adalah termasuk perkara goib.
Bersiaplah,kita akan seggera memulai perjalanan ini
Sebelum masuk ke negri akherat ada satu fase yang harus kita lewati, tanpa itu tak mungkin kita bisa mengunjungi akherat, apa itu? Ya betul,itu adalah kematian.
Fase pertama: kematian.
Saudaraku terkasih,semoga Allah SWT melindungi kita semua dari godaan setan yang terkutuk,
Kematian Adalah  suatu yang pasti dan mutlak akan kita lewati, tak pandang siapa kita, pejabat,rakyat,raja,ratu,presiden dan bahkan Nabi sekalipun merasakan kematian, terdapat banayak firman Allah tentang kematian yang rasa penting untuk kita bahas pada tulisan singkat ini.
Allah berfirman dalam al-quran surah Ali imran ayat 185,
Artinya: “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.
Allah juga mengingatkan kita dalam firmanNya yang lain yang menerngkan tentang kematian,kemanapun kita berlari untuk mengindari kemtian dan diamanpun kita bersembunyi dari kematian niscaya kemtian itu akan selalu datang kepada kita walaupun kita berada dalam benteng kokoh sekalipun
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu"( Al-jumah ayat 8)
"di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh”.(An-Nisa ayat 78).
Dan juga firman Allah dalam surah Luqman ayat 34 yang menerangkan bagaimana kemtian akan menimpa manusia di tempat yang tak pernah kita ketahui,entah di Mall,di masjid, di caf, jalan raya dll.
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”
Dan juga mari kita ingat selalu Nasehat Nabi kita tentang kematian,pada suatu kesempatan beliau berkata,
“Perbanyaklah oleh kalian mengingat pemutus kenikmatan (yaitu kematian)”
Mengingat kemtian maksudnya memikirkan bagimana huru hara dan dahsyat sakratul maut,sehingga dengan demikian kita akan selelu takut untuk melakukan perbuatan yang di larang allah SWT.
Rasulullah bersabda,
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah,Sesungguhnya kematian ada masa sekaratnya.” (HR. Al-Bukhari)
Imam Ghozali berpendapat dalam Ihya Ulumuddin nya :
"Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki".
Namun yang terpenting bagi muslim adalah bagimana kita mempersiapkan kematian supaya jangan menyesal di kemudian hari,
Apakah ada orang yang menyesal ketika hendak mati atau sekarat? Jawabannya ada, namun sayang penyesalan waktu itu tidak ada gunanya 
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja.(perkataan yang tidak berfaedah) dan di hadapan mereka ada barzah sampal hari mereka dibangkitkan"
Fase kedua : Alam kubur/Barzah
Setelah kita mati barulah kita masuk dalam alam kubur,dsinilah tempat perbatasan terakhir antara kehidupan dunia dan akherat, di alam kubur kita tidak serta merta masuk dan selesai begitu saja, sekali-kali tidak sesungguhnya di alam kubur terdapat beberpa pertanyaan malaikat yang akan kita jawab,
Mari kita simak beberpa hal tentang alam kubur melalui Sabda Nabi kita Muhmmad SAW.
Sahabat mulia Usman bin Affan apabila melihat kuburan ia menangis sampai basah janggutnya, ada apa gerangan sampai-sampai sahabat yang dijamin masuk surga tersebut menagis melihat kuburan? Beliu berkata,rasulullah bersabda:
Kubur adalah tempat singgah pertama dari tempat singgah-singgah akhirat,apabila orang selamat di dalamnya maka setelahnya akan menjadi lebih ringan urusannya namun jika tidak selamat  dari kubur maka beratlah urusannya setelahnya”
Di dalam kitab Ahkam al-janaiz, karya al-Albani halaman 59 dan shaih al jami’ ash-shagir no 1672 di ceritakan dalam sebuah hadis panjang yang intinya adalah jika kita bisa menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur maka kubur yang sempit tersebut menjadi luas dan indah dan juga di temani teman yang baik nan rupawan,
Rasulullah bersabda dalam hadis yang lain tentang keadaan orang yang tidak bisa menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur;
 adapun orang kafir atau munafik (ketika di tanya malaikat) maka dia akan mengatakan “aku tidak tahu,dahulu aku mengatakan apa yang dikatakan manusia” maka di katakan kepada mereka “kamu tiadak mencari tahu (tentang agama) dan tiadak pula mengikutu (ulama),lalu ia dipukul dengan palu dari besi satu kali pukulan pada bgian muka antara dua telinganya, maka dia menjerit dengan jeritan yang di dengar oleh apa-apa yang ada di sekitarnya kecuali jin dan manusia”
Demikianlah saudaraku, semoga kita selamat dari pertanyaan alam kubur sehingga kita bisa mersakan kenikmatannya,maka mari sekali lagi persiapkan bekal agar bisa menjawab pertanyaan dua malaikat tersebut agar supaya tidak meyesal di kemudian hari,
Di alam kubur inilah kita akan menunggu sampai hari kiamat terjadi, kita tidak akan bisa beranjak ke fase berikutnya jika di dunia belum terjadi hari kiamat,

Fase ketiga: Hari Kiamat dan pengumpulan manusia di padang Mahsyar.
Setelah Dunia mengalami kehancuran total (kiamat) maka semua orang akan mati lalu  kemudian orang-orang yang berada di alam kubur di bangkitkan dan di kumpulkan dalam padang mahsyar untuk di adili atas apa yang pernah mereka lakukan ketika hidup di dunia mereka dibangkitkan dan tidak akan mati setelah itu walupun banyak malapetaka yang akan menimpa, abadi selamnya
Sebelum kita lanjut memmbahas bagaimana keadaan orang-orang di padang mahsyar,terlebih dahulu ingin kami berikan sedikit gambaran bagaimana kengerian dan kedahsyatan hari kiamat yang di gambarkan Allah dalam Al-Quran,
Mari sejenak kita simak firman Allah  berikut dalam surah Al-Hajj ayat 1 dan 2 
Artinya: “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar(dahsyat),(ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu Lihat manusia dalam Keadaan mabuk, Padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras”
Saudaraku,coba baca ayat tersebut sekali lagi dan renungkan artinya, betapa dahsyatnya guncangan hari kiamat tersebut sampai-sampai wanita yang sedang menyusui anaknya langsung lupa sama anak yang di susuinya dan wanita yang sedang hamil seketika langsung gugur kandungannya dikarenakan ngeri dan kerasnya guncangan hari kiamat.
Allah juga berfirman dalam surah Al-Qoriah ayat 1 s/d 5,  
"hari kiamat,Apakah hari kiamat itu? tahukah kamu Apakah hari kiamat itu? pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan."
Setelah hari kiamat terjadi pada tiupan sangkakala pertama yang membinasakan semua mahluk, maka malaikat isrofil meniup sangkakkala yang kedua maka seketika itupun manusia mulai bangkit dan berkumpul di padang mahsyar dalam keadaan tidak menggunakan sehelai kainpun,
Pada suatu ketika Nabi Muhmmad bersabda “pada hari kiamat manusia akan dibangkitkan tanpa mengenakan sandal dan dalam keadaan tidak disunat” mendengar Rasulullah bersabda demikian maka Aisyah bertanya
Wahai rasulullah,wnita dan laki-laki dikumpullkan berarti sebagian mereka akan melihat sebagian yang lain?” maka Nabi Muhmmad menjaawab “wahai Aisyah, perkaaranya lebih dahsyat dari pada saling melihat pada sebagian yang lain” (shahih muslim 17/192-195)
Senada dengan firman Allah yang menegaskan pertalian nasab dan persahabatan akan putus dan tidak mau saling sapa karena takut dengan hasil yang  akan mereka dapatkan
 "apabila sangkakala ditiup Maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu[1023], dan tidak ada pula mereka saling bertanya.
[1023] Maksudnya: pada hari kiamat itu, manusia tidak dapat tolong menolong walaupun dalam kalangan sekeluarga.
Saudarku yag dirohmati Allah,
Pada saat kiamat atau pengumpulan di padang mahsyar kondisi manusia berbeda-beda,  (BERSAMBUNG KE BAGIAN YANG KEDUA)


Jumat, 02 Juni 2017

khutbah idul fitri 1438 H




KHUTBAH IDUL FITRI 1438 H
“BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA”
OLEH : AHMAD BUDIMAN
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamualkum warhmatullahiwabarokatuh
Allhuakbar 9x
Allahuakbar kabiro,walhmdulillhi kasiro,wasubhanallahibukrotang wa ashila lailaha illallah wallhu akbar walillahilhamd.
Asyhaduan la ilaha ilallah wahdahula syar
i kalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu wa huwa al kulli syaiin Qodiir,Wa asyhadu anna muhammadan abduhu warasuluhu,la nabiya wala rasula ba’da
Allahumma sholli ala syayidina Muhammad wa ala aali syayidina Muhammad
Ayyuhal Muslimunnal baroroh, fi hazal makan wafi hazal waktil kariim Uusiikum wa nafsi wa iyaya bitaQwallah,fakod faazal Muttaqun.
Saudaraku kaum muslimin yang berbahagia,
Alhamdulillah pada pagi hari yang berkah ini kita bisa berkumpul di tempat yang penuh berkah ini untuk menuanikan ibadah shalat Sunnah idul fitri, semua ini adalah merupakan salah satu bentuk nikmat Allah yang patut kita syukuri, Alhamdulillah,
Saudaraku, hadirnya kita di tempat ini,berkempulnya kita di tempat ini, bukanlah suatu perkara yang murah dan enteng,lihatlah dan perhatikan, banyak saudara kita yang tak sanggup menghadiri shalat idul fitri hari  ini dikarenakan sakit yang mereka drita, dan banyak juga saudra kita yang tak mampu hadir seperti kita  disnini di karenakan sudah telah lebih dahulu di panggil ke haribaan Allah SWT.kita berdo’a semoga saudara kita yang sakit cepat di angkat dan diberi kesembuhan dan kita berdoa kepada saudara-saudara kita yang telah mendahului kita semoga kuburnya di lapangkan Allah SWT dan kuburnya di jadikan salah satu taman-taman syurga,Amin.
Shalawat dan salam semoga teteap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW kepada keluarga beliau,sahabt-sahabat beliau dan orang-orang yang selalu senantiasa mengikuti Sunnah beliau hingga akhir zaman nanti.
Alahu akbar 3Xwalillahil hamd
Perjuanagan dan pengerbonan beliau dan sahabat-sahabat dalam menyebarkan dan mengabarkan agama ini,sungguh di luar dugaan dan bayangan kita semua,harta dan jiwa beliau korbankan demi agama ini,ingatkah kita bagimana Rasulullah di lempari batu dan kotoran bintang oleh bani syakif di perkampungan To’if, padahal waktu itu beliau dalam keadaan bersedih karena di tahun itu rasulullah di tinggal istri tercinta Khadijah dan paman beliau menghadap Allah yang mana dua insan ini  yang selalu membela perjuangan beliau,
 ingtkah kita bagaimana kekejaman Abu jahal yang hendak membunuh beliau dalam memperjuangkan agama ini?, ingatkah kita bagaimana perjuangan para sahabat rela mati meninggalkan anak istri mereka demi agama ini,
sudah selayaknya kita sebagai pengikutnya untuk selalu menjalankan anjuran-anjuran beliau sebagi bentuk penghargaan dan  terimakasih kita kepada perjuangan beliau dan para sahabat
kalaulah hari ini kita tidak menghargai perjuangan dan pengorbanan Nabi dan para sahabat dengan cara mengikuti apa yang telah di tunjuki Allah melalui Nabi Muhammad dan para sahabatnya
Apa yang akan kita katakana kepada Allah jika kite di Tanya apa bentuk perjuangan dan pengorbanan kita terhadap agama ini? 
Apa juga yang akan kita jawab di hadapan Nabi Muhammad jika  juga bertanya kepada kita apa pengorbananmu kepada Agama ini?
 Apa yang kita jawab jika kita berjumpa Abu Bakar,Umar,Usman dan Ali yang telah menghabiskan Harta,tenaga dan jiwanya untuk agama ini, ?
apa yang akan kita jawab wahai ibu-ibu yang mulia, jika kita berjumpa dengan istri-istri sahabat nabi yang telah merelakan dan mengorbankan suami-suami mereka mati syahid di jalan Allah,?
Sudahkah kita ingatkan suami-suami kita untuk berbuat yang baik-baik, sudahkah kita ingatkan suami-suami kita untuk mengerjakan shalat,atau bahkan mungkin kita sendiri jarang atau bahkan  tidak pernah shalat.Wallahu a’lam
 Saudaraku sekalian apa juga  yang akan  kita jawab jika nanti di padang mahsyar kita berjumpa anak-anak yatim para sahabat yang merelakan ayah-ayah mereka mati syahid untuk membela agama ini,?
 Oleh karena itu mari mulai hari ini kita belajar untuk meninggalkan apa-apa yang di larang Allah dan Rasulnya,sebagai bentuk perjungan kita untuk agama ini,paling tidak mulai hari ini belajarlah untuk meninggalkan minuman-minuman keras dan memabukkan, ,berjudi tingalkan hal-hal yang dapat membawa mudarat untuk diri kita dan tubuh kita,bayangkan apa jadinya kita jika saat nyawa dicabut kita dalam keadaan mabuk,sedang berjudi,minum komix yang berlebihan,apa yang akan kita banggakan di hadapan Allah  SWT,rasnya tidak ad lagi yang tersisa hanya siksaan panjang yang Abadi yang tidak berakhir,
Maka mulai ini berjanjilah pada diri kita masing pada hati kita masing-masing untuk tidak lagi meninggalkan shalat wajib lima waktu,di manapun kita,di ladang,di sawah,di hutan,kerjakanlah shalat dan setidak-tidaknya pergilah kemasjid dua kali dalam sehari,jangan takut di anggap preman baru tobat,jangan takut di ejek sok alim,jangan ada perasaan malau dengan teman-teman jika kemasjid, karna nanti ketika menghadap Allah kita tidak bersama-sama mereka tidak juga bersama teman-teman kita, kita menghadap Allah dengan diri kita masing-masing,jangn perdulikan omongan orang,janagn pedulikan ejekan orang,mulailah hari ini.berubahlahi,insyaAllah Allah akan membantu kita semua dan memaafkan dosa-dosa yang telah lalu.
Ssaudaraku kaum muslimin yang berbahagia
Allhuakbar3x walillahilhamd.
Akhirnya hari ini romadhon itu kini telah berlalu,lantunan takbir,tahmid,tasbih dan tahlil menggema di seluluruh antero negri dan bahkan dunia,semua kaum muslimin bertakbir dan bertasbih mensucikan nama Allah yang maha Agung yang tidak ada Tuhan selain Allah, lantunan takbiar yang terdengar jelas di telinga dan juga  terdengar syaup-sayup dari masjid-masjid di kejahuan tanpa terasa membuat air mata ini menetes membasahi pipi,namun entah air mata kebahagiaankah?  dikarenakan kita berpuasa sebulan penuh,di ikuti amalan-amalan ibadah yang disunnahkan dan di anjurkan, atau bahkan mungkin air mata kemunafikan, karena kita berpuasa namun tidak bersembahyang,kita berpuasa namun tidak mengaji,kita berpuasa namun masih menggunjing,kita berpuasa namun masih punya perasaan dengki dan iri kepada tetangga,kita berpuasa namun enggan bersedekah,Namun Anehnya manusia dalam doa’nya selalu dan selalalu menuntut kebaikan dan surga kepada Allah SWT , Modal secuil minta untung banyak,Astagfirullah,wallhua’lam bissowab.
Jamaah sidang shalat idul fitri yang berbahagia.
Paada kesempatan ini izinkan kami menyampaikan satu hal yang harus kita lakukan selapas bulan mulia ini,sebenarnya kalau  kita uraikan hal-hal yang harus kita lakukan selepas bulan suci Ramadan, sungguh tak terbatas, puluhan dan bahkan ratusan pembahasan namun pada kesemptan ini kami ingin menyampaiakan satu hal yang harus kita perhatikan dan kita lakukan di bulan-bulan berikutnya, insyallah jika kita lakukan akan bisa membuat kita mendapatkan ridonya dan  masuk surga-NYA dengan slamat,amin
Saudraku jamaah kaum muslimin yang berbahagia
“Pada suatu ketika, seorang perempuan  yang masih sedang menjalani kehamilan ditinggal mati suaminya. Ketika melahirkan, anaknya diberi nama: Al Qamah. Meski hidupnya sangat susah, sang ibu merawat anak bayinya dengan penuh kasih sayang. Siang malam sang ibu berharap, bersujud memohon doa kepada Allah SWT,  menengadahkan tangannya memohon doa, terkadang sambil menitikkan air mata dan berharap kepada Tuhan, “Semoga ketika kelak anakku besar, bisa memberikan kebahagiaan, dan menjadi anak yang bermanfaat pada orang-orang disekelilingnya”. Setiap sang ibu berdoa kepada Allah Swt., terbuka tujuh lapis langit, menembus arsy kursyi dan para malaikat bersujud kepada-Nya dan berkata, “Ya Allah, tidak akan bangun dari sujudku jikalau tidak diterima permohonan doa dari hamba-Mu.” Ketika Al Qamah beranjak besar, nasib baik berpihak kepada dirinya. Al Qamah diberi kekayaan oleh Allah Swt, istri yang cantik, tapi tidak lagi memperhatikan para kaum miskin. Sedang rekan pergaulannya hanya terbatas orang-orang terpandang, para golongan kaya, dan pejabat tinggi. Maka Al Qamah merasa malu menampilkan sang ibu yang Tua ke hadapan rekan-rekan sepergaulannya. Maka oleh Al Qamah dipindahkan tempat tinggalnya sang ibu ke sebuah rumah yang berpisah dari rumah Al Qamah pada suatu sudut kampung dengan kondisi rumah seadanya. Sang ibu diinapkan dirumah sederhana itu seorang diri, meski dapat dengan mudah dijangkau ke rumah Al Qamah.            
Suatu ketika Al Qamah kedatangan tamu, ketika itu sang ibu juga sedang bertandang ke rumahnya. Ketika tamu Al Qamah menanyakan ihwal sang ibu yang sedang lewat didalam rumah, “siapa orang tua yang sedang lewat tadi?” Al Qamah menjawab, “ Dia orang yang tinggal dibelakang rumah yang sering datang meminta-minta”. Jawaban Al Qamah langgsung didengar oleh sang ibu, tetapi sang ibu tidak berkata apa-apa. Hanya mengurutkan dadanya.            
Saat kedua, ada lagi tamu Al Qamah datang bertandang kerumahnya dan ketika itu sang ibu juga datang bertandang. Tamu itu kembali menanyakan ihwal sang ibu dan jawaban Al Qamah sama seperti sebelumnya. Dan sang ibu kembali mendengar jawaban Al Qamah yang sangat menyakitkan hati sang ibu tapi tetap tidak berkata-kata. Hanya sanggup meneteskan air mata, meski dalam hatinya sangat marah. Sang ibu bertekad bila pada kali ketiga masih saja mengatakan bahwa dirinya bukan ibunya, maka sang ibu tidak akan diam lagi.
Saat ketigapun datang, ada lagi tamu Al Qamah yang bertandang kerumahnya dan kembali sang tamu menanyakan ihwal ibu yang sedang lewat dihadapannya. Dan jawaban Al Qamah seperti sebelumnya. “ Dia orang yang tinggal dibelakang rumah yang sering datang meminta-minta” Ketika itulah maka spontan sang ibu duduk bersimpuh disamping kursi Al Qamah, sambil berkata, “Oh...anakku Al Qamah. Saya tak pernah bermimpi kamu akan memperlakukan saya, ibu yang melahirkanmu ketika kamu masih kecil, kamu kuberi air susu ibu. Kupaksa diriku untuk menghidupimu, meski hidupku susah. Meski hari panas terik, atau di kala hujan, keberi makan apa adanya agar kamu bisa hidup.  Kamu selalu kuelus ketika nyamuk menggigitmu, kepeluk ketika suara guruh menggelegar di langit dan kilat menyambar-nyambar di pagi hari buta. Ketika kamu sakit, saya selalu menjagamu  sampai tidak bisa tidur. Ku gendong dirimu sambil bersenandung ketika kamu menangis. Kelakuanmu dan perkataanmu, sangat jauh dari harapan ibu. Saya akan pulang, anakku. Tak perlu lagi kamu menjelek-jelekkan ibumu dan tak perlu lagi kamu meras malu mempunyai malu mempunyai ibu sepertiku di hadapan teman-temanmu, jika beruntung mungkin kita bisa bertemu lagi,sang ibupun pergi berjalan perlahan meninggalkan sang anak.
Maka pulanglah sang ibu, berjalan pelan-pelan sambil menyesali perbuatan anaknya. Sang ibu  sekali-kali menyeka air mata yang terus bercucuran dan hidungnya yang sesak dan hati pedih sebab hilang sudah harapan terhadap anak yang dikandungnya.            

Akhirnya, ketika kekayaan Al Qamah berangsur mengecil dan dirinya diserang penyakit, para teman sepergaulannya pun semakin berkurang.  Suatu ketika Al Qamah menjelang ajalnya, tapi sangat sulit nyawa lepas dari tubuhnya meski surat Yasin telah berkali-kali tamat dibacakan. Maka beberapa sahabat mengadukan perihal Al Qamah ke hadapan Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah bertanya kepada para pembawa berita itu, “Apakah masih hidup ibunya AL Qamah?” Maka dijawab oleh pada pembawa berita, “Masih hidup ya... Rasulullah, tetapi sudah lama tidak ketemu karena ia tidak mau mengakui ibunya.”
Rasulullah menyuruh para pembawa berita itu untuk mencari sang ibu dari Al Qamah, tetapi sang ibu enggan bertemu lagi dengan anaknya,. Sang ibu berkata, “Sudah tidak ada ibunya Dia sudah tidak mengakui saya sebagai ibunya. Saya tetap peduli pada sakitnya, tapi saya lebih sakit hati atas perbuatannya dan perkataannya kepada saya.” Kali ketiga sang ibu dijemput oleh para pembawa berita agar menemui anaknya yang sedang sekarat, Rasulullah berpesan, “Beritahu ibunya Al Qamah, bila dia tidak datang menemui anaknya yang sedang sekarat dan memaafkannya, maka dating saja pada saat akan dimasukkan kedalam api membara”.            

Subhanallah Demi cinta dankasih sayang seorang ibu, maka datanglah sang ibu, duduk didekat Rasulullah memandang anaknya yang akan dimasukkan ke dalam api. Namun apa yang terjadi, baru akan diangkat tubuh Al Qamah maka berkatalah sang ibu, “Anakku....anakku....anakku AL Qamah. Saya maafkan dosa-dosamu kepadaku.meski engkau telah mempermalukan ibu dihadapan teman-temanmu, Ketika itu pula maka  Al Qamah menghembuskan nyawa yang terakhir setelah sekian lama mengalami sekarat.
Allahuakbar3x Walillahilhamd
Saudaraku,tanpa kita sadari saat ini,hari ini banyak di antara kita yang menjadi Al-Qomah di zaman Moderen,berapa kali kita menolak perintah ibunda dan ayah kita,berapa kali kita membentak mereka,? berapa kali kita menyakiti hati merika?,berapa kali kita buat mereka menangis tanpa sepengetahuan kita?
Jiak boleh jujur semua kita pasti pernah durhaka dengan orang tua,menganggap kitalah yang paling bener,orangtua kitalah yang salah,menganggap mereka remeh,kolot dan kuno dan bahkan jika orang tua kita berbuat salah sedikit  saja dengan tanpa segan dan angkuh kita membentak mereka, dan masih banyak lagi perbuatan-perbuatan  buruk yang kita lakukak kepada orang tua kita,menggunjingi orang tua kita di hadapan orang lain, dan lain sebaginya Astagfirullah.semoga Allah mengampuni dosa kita semua
Maka oleh kareana itu hal yanh harus kita lakukan di bulan-bulan berikutnya adalah memperbaiki cara  “berbaki kepada orang tua”  beusahalah untuk baik kepada orang tua jika umurnya sudah lanjut usia,tentunya mereka semakin tua akan semakin cerewat,sama sepeti kita waktu masih kecil dulu,dengan mendapat rido orang tua insyallah rido Allahpun dapat kita raih,dan tentunya jika rido allah sudah kita dapat dan raih maka surga sudah pasti dapat kita masuki,amin
Allah berfirman di dalam surat Al-Isra’ ayat 23-24.
 “Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil” [Al-Isra :23- 24]
Juga terdapat dalam surat Luqman ayat 14
 “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali”
Dari Abu Hurairah r.a mengatakan: Rasulullah SAW. bersabda: “Empat golongan manusia yang benar-benar Allah tidak akan memasukkan mereka ke dalam surge dan tidak akan dapat merasakan kenikmatannya, yaitu:
Orang yang membiasakan diri minum-minuman keras (khamar).
Orang yang makan harta riba.
Orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang kejam.
Orang yang durhaka kepada orang tuanya, kecuali kalau mereka itu bertobat.” 
(Riwayat Hakim ).
Hal itu menandakan bahwa peran dan kedudukan orang tua sangat tinggi di hadapan Allah SWT. sehingga Rasulullah SAW. bersabda:
Keridaan Allah itu terletak pada keridaan kedua ibu-bapaknya dan kemurkaan Allah terlatak pada kemurkaan kedua ibu-bapak kita.”

Akhirnya semoga allah SWT membimbing kita kejalan yang lebih baik,menjadikan kita hamba-hamba allah yang bertakwa yang mampu berbakti kepada kedua orang tua dan semoga kita dipertemukan dengan bulan suci romadhan berikutnya,amin demikian apa yang dapat kami sampaikan  mohon maaf atas segala khilaf kata,maka mari pada penghujung khotbah idul fitri ini kita ikhlas kan hati kita tadahkan tangan berdoa kepada Allah swt.

Innallaha wa malaaikatahu yusollu alan nabi,ya ayyuhallazina amanu sollu alaihi wasallimu taslima.

Auzubillahiminassyaitonirrojim,Bismillahirrohmanirrohim alhamdulillahirobbil alamin wassolatuwassalamu ala nabyyinal karim Muhammad SAW,wa ala aalihi wa ashaabihi waman tabiahu ila yaumiddin,
Allahumma ala syaidina Muhammad 3x
Allhummagfir lil muslimiinnwal muslimat wal mukminin wal mukminat al ahya iminhum wal awat innaka syamiiung Qoribum mujibu daawat.

‘’Ya Allah saat-saat yang syahdu ini, kami segenap hamba-hamba-Mu, berkumpul, bersimpuh di tempat yang suci yang penuh rakhmat, menyebut namaMu yang agung, berzikir, bermunajat kepadaMu dengan takbir, tahmid, dan tahlil.
Duhai Rabb kami yang Maha Penyayang, sayangilah para ustadz, guru-guru kami, lindungi dan bimbinglah mereka. Lapangkan rezkinya, kuatkan azamnya dan berkati jalannya.
Ya Allah, bersihkan hati dan jiwa ini dari hasad dan dengki, persatukan jiwa-jiwa ini dalam cinta karenaMu dan dalam ketaatan kepadaMu, jangan Engkau biarkan setan musuhMu menggerogoti persaudaraan kami.
Ya Allah, berilah bimbinganMu untuk pemimpin negeri ini agar dapat berlaku adil dengan syari’atMu di atas bumi yang tidak sejengkalpun melainkan milikMu. Duhai yang Maha Menyelamatkan, Engkau pelindung kami, Engkau pemberi petunjuk orang-orang bingung, Engkau pemberi kecukupan orang yang kekurangan, Engkau pemberi ketenangan orang yang gelisah.
Ya Allah, yang sakit Engkau sembuhkan, yang lupa Engkau ingatkan, yang gelisah Engkau tenteramkan, yang sedih Engkau gembirakan, yang meminta Engkau beri dan kabulkan.
Ya Rabbi, ampuni kami atas kehilafan dan dosa kami kepada anak-anak kami, suami, isteri kami, belum mampu mendidik dan membahagiakan mereka.
Ya Allah, yang mengetahui segala keburukan aib dan maksiat, ampuni seburuk apapun masa lalu kami, tutupi seburuk apapun aib-aib kami.
Ya Rabb, karuniakan kami jasad yang terpelihara dari maksiat, terpelihara dari harta haram, makanan haram, perbuatan haram. Izinkan jasad ini pulang kelak, jasad yang bersih.
Ya Allah, bukakanlah lembaran-lembaran baru yang bersih yang menggantikan masa lalu kami.
Ya Allah yang maha penyang hari ini kami berdoa untuk istri,anak,adik,abang kami yang telah lebih dahulu meninggalkan kami,ampunkanlah dosa mereka,lapangkanlah kuburnya,sampaikan salam kami kepada mereka bahwa kami rindu dan cepat ataupun lambat kami akan segera menyusul mereka.
 Ya Allah Tuhan yang Maha Penyayang, sayangi kami, sayangi kedua orang tua kami, yang telah berpeluh lelah merawat dan mendidik kami. Ampuni setiap kata keras kami yang pernah terlontar pada mereka,
 Ya Allah. Ampuni sikap tak peduli kami atas mereka,
Ya Rabb. Berikan kesempatan kami berbakti kepada mereka,
Ya Allah. Lembutkan hati mereka untuk kami agar ridha mereka mengantar kami kepada RidhaMu,
 Duhai Alloh Yang Maha Rohman dan Maha Rohim Engkau pasti mendengar apa yang kami pinta yaa Alloh,Engkau pasti tahu apa yang kami harapkan untuk ayah dan bunda kami..
Ya Alloh selamatkan mereka yaa Robb..
Jikalau mereka masih hidup kami hanya memohon..
Panjangkan  umur  tho’at mereka..
Umur ibadah mereka..
Jangan susahkan mereka dalam kehidupan ini..
Karena mereka sudah susah mengasuh kami membesarkan kami..
Jangan biarkan kami membuat hati mereka luka..
Bahkan air mata mengalir dari kedua mata mereka..
Ya Alloh yaa Robbana..
Untuk mereka ayah bunda kami yang sudah berada dialam kuburnya..
Kami memohon kepada-Mu..
Jangan siksa yaa Alloh jangan diazab..
Jadikan kuburnya taman-taman Syurga..
Berikan haruman Syurga didalam kuburnya..
Jadikan setiap amal baiknya sahabat baginya..
Kami menjadi saksi yaa Alloh..
Bahwa mereka adalah orang yang luar biasa dalam kehidupan kami..
Ya Robbi...
Jikalau nanti yaa Alloh..
Engkau betul-betul selamatkan kami..
Kami hanya ingin Engkau pertemukan kami dengan kedua orang tua kami lagi..
Rindu yaa Robb..
Rindu hati ini..
Menatap wajahnya mendengar suaranya..
Rindu akan kehangatan pelukannya yaa Alloh..
Yaa Robbi Yaa Robbanaa..
Syurga tidak akan indah tanpa kedua orang tua kami..
Syurga itu tak akan indah tanpa mereka yaa Robb..
Mereka itu yang membuat kami seperti ini..
Mereka telah menjadikan kami bermanfaat seperti ini dalam kehidupan..


Maka yaa Robb..
Maka jangan biarkan kami terpisah..
Jangan biarkan kami tidak dapat lagi menatap wajah keduanya ya Alloh..
Ya Robbanaa..
Selamatkan mereka..
Selamatkan mereka..
Robbana Zolamna Anfusana Wain lam tagfirlana watarhamna lanakunanna minal khisiriin
Rabbna atina fiddunya hasanah wafil akhiroti khasanh wa qina azabannar,walhamdulillahirobbil alamin.
Wassalmualakumwarahmatullahiwabarokatuh,
Kullu aammmin wa antum bikhoir.
 







Menggengam Surga (bagian satu)

Surga dalam pandangan islam Dalam pandangan islam surge adalah sebuah tempat akhir dari perjalanan panjang manusia yang di sediakan bagi...